Sepenggal Perjuanganku



Sepenggal Perjuanganku

Tidak ada yang paling didambakan bagi setiap pelajar Sekolah Menengah Atas, kecuali jika dapat meneruskan pendidikannya ketingkat yang lebih tinggi. Duduk diperguruan tinggi, apalagi jika berhasil memasuki Universitas Negeri yang dicita-citakan. Sebelum melangkah memasuki jenjang pendidikan tinggi, pastilah semua orang memiliki sebuah obsesi untuk dapat diraih. Seperti halnya saya. Saya mungkin adalah satu dari sekian banyak calon mahasiswa di negara ini yang ingin menjadi seorang mahasiswa di Universitas Diponegoro Semarang. Sebelumnya saya adalah siswa jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMA Negeri 2 Semarang.
Langkah awal untukku memasuki dunia perguruan tinggi adalah pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Impian saya adalah dapat masuk di jurusan Manajemen UNDIP, namun saat saya melihat terlalu banyaknya saingan pada jurusan tersebut, akhirnya setelah saya melakukan konsultasi dengan banyak orang, saya memilih untuk  mencari jalan aman dengan mengisi blangko SNMPTN dengan mengisinya hanya pada 1 pilihan prodi dan 1 pilihan universitas yaitu S1 Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Saya sadar bahwa jalur “menikung” bagi siswa IPA memilih jurusan IPS memiliki peluang sedikit, namun saya harus tetap optimis. Akhirnya pada pendaftaran SNMPTN saya memasukkan informasi data diri dan formulir melalui sistem online. Langkah selanjutnya saya berdoa agar SNMPTN saya bisa lolos.
Lolos SNMPTN adalah suatu kebanggan terbesar bagi sebagian besar calon mahasiswa perguruan tinggi negeri. Namun jalur SNMPTN adalah jalur yang paling banyak diminati oleh seluruh pelajar SMA kelas 3 di seluruh Indonesia. Saya pun menyadari bahwa saya tak sepenuhnya dapat menggantungkan  harapan di sana. Akhirnya pengumuman SNMPTN tepat 6 hari sebelum pengumuman kelulusan tiba. Dengan penuh harap-harap cemas, saya membuka pengumuman tersebut. Dan, muncul tulisan berwarna MERAH bahwa saya tidak diterima sebagai calon mahasiswa UNDIP 2015. Saya sangat kecewa dengan hasil tersebut, namun bukan hanya saya yang memiliki perasaan seperti apa yang saya rasakan. Ternyata banyak teman-teman saya yang tidak lolos. Saya tak patah semangat.
Mungkin peribahasa bahwa “Banyak jalan menuju roma”  adalah motivasi saya untuk dapat berusaha merasakan bangku kuliah. Setelah ini ada jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), saya bersama teman-teman mendaftar SBMPTN dengan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp200.000,-, saya memilih jurusan  pertama S1 Manajemen UNDIP, pilihan kedua S1 Administrasi Bisnis UNDIP, pilihan ketiga S1 Ekonomi Islam UNDIP.  Perlu teman-teman ketahui, sebelum ada jalur SNMPTN dan SBMPTN ini, sebelumnya saya sudah mengikuti 2 kali seleksi  jalur siswa berprestasi dengan hanya menunjukkan fotokopi raport semester 1-5 dan piagam di Politeknik Negeri Semarang (POLINES) namun saya gagal. Namun, kegagalan itu tak langsung menyurutkan tekadku untuk dapat masuk ke Perguruan Tinggi Negeri.
Untuk menghadapi persiapan Ujian SBMPTN, saya mengikuti sebuah bimbingan belajar yang diadakan oleh sekolahku. Setelah Ujian Nasional,  selama 2 bulan setiap harinya saya berangkat menuju bimbingan belajar di sekolah dari pagi hari sampai siang hari.
Akhirnya tiba saat di mana Ujian SBMPTN tiba. Saya mengikuti dengan penuh semangat. Saat itu saya mendapatkan lokasi ujian di Fakultas Kedokteran UNDIP. Saya berangkat bersama teman saya. Sesampainya di lokasi ujian, saya menyiapkan alat-alat dan syarat yang dibutuhkan oleh pengawas ujian. Akhirnya bel tanda ujian tiba. Saya mengerjakan soal demi soal dengan hati-hati. Selesai ujian saya langsung pulang menuju rumah dan berdoa agar hasilnya sesuai dengan apa yang saya inginkan.
Pengumuman SBMPTN pun tiba, saya membuka link pengumuman dan memasukkan identitas saya di situ, muncul tulisan bertuliskan “Maaf, nama anda tidak termasuk dalam calon mahasiswa Universitas Diponegoro.” Saya gagal. Betapa lemas badan saya tak bisa mendapatkan Universitas Negeri impian saya. Namun, orang tua saya terus menyemangati saya agar saya tidak patah semangat.
Selanjutnya, ada pengumuman bahwa Polines membuka ujian masuk jalur regular dan saya mendaftar serta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp150.000,-, saya pun belajar untuk persiapan ujian. Sama seperti saat ujian SBMPTN saya pun mengerjakan soal dengan hati-hati. Namun kembali saya gagal saat pengumuman hasil ujian.
Saya tetap menggantungkan harapan di UNDIP. Saya pun mengikuti Ujian Mandiri yang diadakan UNDIP dengan memilih jurusan S1 Manajemen dan S1 Ekonomi Islam dan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp300.000,-. Tepat 1 minggu setelah Hari Raya Idul Fitri, Ujian Mandiri dilaksanakan. Namun, saya kembali kecewa dengan hasil ujiannya. Lagi-lagi saya gagal mengikuti Ujian Mandiri. Saya merasa benar-benar sudah tidak punya harapan untuk bisa menjadi Mahasiswa Diponegoro dan merasakan bangku kuliah universitas negri. Namun kembali saya tak boleh menyerah begitu saja. Saat itu tak masalah bagi saya tidak bisa menjadi mahasiswa UNDIP, yang terpenting saya bisa menimba ilmu dan mengenyam pendidikan tinggi serta merasakan rasanya bangku kuliah di universitas negri.
Universitas Negri Surakarta kembali membuka Seleksi Mandiri dengan jalur menggunakan nilai SBMPTN. Tanpa pikir panjang pun saya mendaftar dengan membayar biaya pendaftaran Rp100.000,- lalu setelah melakukan pembayaran saya mulai mengisi formulir pendaftaran online. Tak menunggu waktu lama, akhirnya pengumuman hasil seleksi keluar. Dan lagi saya gagal.
Tak berhenti sampai di situ perjuangan saya untuk dapat menjadi seorang mahasiswa. Saya pun mengikuti Seleksi Mandiri di Universitas Negeri Semarang (UNNES) dengan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp250.000,-. Saya pun benar-benar menyiapkan untuk menghadapi seleksi tersebut. Saya meminjam soal-soal ujian tahun lalu dari kakak kelas saya yang sudah di UNNES dan meminta tolong teman saya untuk dapat mengajari saya. Saya terus belajar sampai saat malam sebelum ujian dilaksanakan.
Akhirnya ujian pun tiba, dengan diantar orang tua saya, saya menuju ke lokasi ujian. Ujian pun dimulai, dengan sangat hati-hati dan di dalam hati saya terus berdoa kepada Allah agar dilancarkan dalam mengerjakan soal ujian. Ujian pun selesai, selanjutnya saya hanya dapat berdoa agar hasil ujian ini tidak mengecewakan. Sembari menunggu ujian keluar, saya pun mencari-cari informasi seleksi masuk perguruan tinggi di internet.
Akhirnya pengumuman seleksi UNNES tiba, saya takut untuk membukanya. Namun saya harus memberanikan diri, karena teman-teman saya yang juga mengikuti seleksi tersebut bertanya kepada saya “Gimana hasilnya?” lalu saya pun membuka hasil pengumuman dengan penuh harapan cemas, setelah saya membukanya saya langsung mengabari teman saya itu, “Aku gagal.” Ya, saya gagal lagi. Pupus sudah harapan sayauntuk bisa masuk menjadi mahasiswa perguruan tinggi negri di Semarang, karena orang tua saya ingin saya kuliah di Semarang saja, tidak perlu di luar kota.
Saat mencari informasi-informasi di internet, saya pun menemukan informasi bahwa Polines kembali membuka Ujian masuk ke-4 sekaligus jalur terakhir yang dibuka oleh Polines dengan jalur regular. Saya pun diperintahkan oleh orang tua saya untuk kembali mendaftar. Jujur saja, saat itu saya benar-benar merasa lelah, merasa jenuh, merasa Tuhan tidak adil dengan saya. Perjuangan saya seakan tidak ada manfaatnya. Namun, orangtua saya terus menyemangati saya, dan akhirnya saya pun kembali mendaftarkan diri.
Setelah melakukan pendaftaran dengan biaya Rp150.000,00- saya pun kembali mempersiapkan untuk menghadapi ujian tersebut dengan harapan. Saat itu saya memiliki seorang kenalan mahasiswa Polines bernama Mbak Gita dan Mbak Gita pun dengan senang hati meminjamkan soal-soal ujian Polines tahun lalu. Saya pun belajar dari soal-soal tersebut.
Saat pagi hari, saya menerima informasi dari teman saya bahwa UNDIP membuka pendaftaran Ujian Mandiri jalur Diploma. Dan saat itu pun merupakan hari terakhir pendaftaran. Saya pun langsung memberitahu orang tua saya apakah saya boleh mendaftar atau tidak. Meskipun Diploma saya tak masalah, karena niat dari dalam diri saya ingin mencari kuliah adalah untuk menimba ilmu meskipun tidak bergelar sarjana. Karena bagi saya, sebuah gelar tak ada artinya jika kita tidak bisa memanfaatkan ilmu yang kita ndapat.
Sejujurnya jalur Ujian Mandiri Diploma ini adalah harapan terakhirku karena setelah ini sudah tak ada universitas maupun politeknik yang membuka jalur pendaftaran mahasiswa baru, yang artinya apabila saya kembali gagal dalam Ujian Mandiri Polines dan Ujian Mandiri Diploma maka terpaksa saya tahun di 2015 tidak akan merasakan bangku perkuliahan. Karena orang tua saya ingin saya masuk ke perguruan tinggi negri, maka dari itu saya tidak mendaftarkan diri ke perguruan tinggi swasta.
Kemudian saya pun mendaftarkan diri saat siang itu juga tepat pukul 10.00 WIB, 2 jam sebelum pendaftaran ditutup, karena pendaftaran ditutup pukul 12.00 WIB. Setelah melakukan pembayaran sebesar Rp300.000,- saya pun mengisi formulir dan memilih program studi D3 Administrasi Perkantoran dan D3 Sastra Inggris. Ternyata setelah saya melihat jadwal ujian kapan dilaksanakan, waktunya bersamaan dengan pelaksanaan ujian polines. Namun, hanya jamnya saja yang berbeda.
Setelah saya mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian, akhirnya hari ujian dilaksanakan pun tiba. Pukul 08.00 WIB saya mengikuti ujian mandiri Polines terlebih dahulu dengan diantar orang tua saya. Setelah saya mengikuti ujian di Polines, pukul 12.00 WIB saya langsung menuju Fakultas Peternakan dan Pertanian UNDIP untuk mengikuti Ujian Diploma. Saat saya mengikuti ujian, ternyata banyak juga teman-teman yang seperti saya belum mendapatkan kuliah.
Ujian demi ujian telah saya ikuti saat hari itu. Tinggal menunggu jawaban dari doa-doa yang selalu saya panjatkan kepada Allah SWT agar saya mendapatkan hasil yang memuaskan. Saya sangat berharap keajaiban datang kepada saya. Saya sangat berharap Allah SWT mengabulkan permohonan saya. Tinggal selangkah lagi saya memijakan kaki menuju gerbang kesuksesan saya, menuju gerbang perkuliahan.
Akhirnya pengumuman hasil ujian Polines telah keluar terlebih dahulu, kembali saya buka pengumuman dan mencari nama saya. Dan saya tak menemukan nama saya dipengumuman itu. Saya masih tak percaya, saya kembali mengecek ulang nama saya dengan teliti. Benar. Tak ada nama saya di pengumuman itu. Bagai disambar petir tubuhsaya, rasanya lemas tiada tertahan. Semangat yang selalu saya siram seakan layu seketika. Saya benar-benar tidak percaya, yang ada difikirkan saya saat itu, “Kenapa bisa?” “Mengapa?” “Di mana letak kesalahan saya?” “Oh Tuhan, sungguh saya tak bisa terima!” Ini adalah kesempatan terakhir saya. Masih ada pengumuman Ujian Diploma UNDIP, ini berarti tinggal 1 harapanku untuk bisa menjadi seorang mahasiswa. Namun akhirnya saya tersadar, motivasi dan semangat dari kedua orang tua saya serta orang-orang disekitar saya mengingatkan saya bahwa takdir Allah, pilihan Allah, ketentuan Allah adalah keputusan yang terbaik untuk saya. “SAYA HARUS BANGKIT!” jerit hati saya.
Tepat 2 hari setelah pengumuman Polines, sebelum saya tidur malam pukul 22.00 WIB teman saya memberitahu saya bahwa pengumuman Ujian Diploma UNDIP sudah bisa dicek. Lalu dengan keberanian diri saya terus berdoa sembari membuka pengumuman di internet dan saya memasukkan identitas yang diminta, lalu muncul tulisan “SELAMAT ANDA DITERIMA SEBAGAI CALON MAHASISWA BARU TAHUN AKADEMIK 2015/2016 UNIVERSITAS DIPONEGORO MELALUI JALUR UJIAN MANDIRI DIPLOMA III (D-III) 2015.” Saya sungguh sangat bahagia. Berkali-kali saya mengucapkan syukur. Akhirnya perjuangan saya selama ini tidak sia-sia. Sungguh akhirnya saya bisa membuat orang tua dan orang-orang disekitar saya bangga. Saya berhasil masuk ke perguruan tinggi negri sesuai keinginan orang tua saya.
Akhirnya impian saya tercapai. Akhirnya mimpi saya tercapai. Akhirnya, akhirnya, dan akhirnya. Dari mengikuti beberapa seleksi dan ujian masuk. Kesabaran, keteguhan, semangat, pantang menyerah semua tidak ada yang percuma.
Ada kisah disetiap perjuangan untuk masuk ke sini. Begitulah saya menyebutnya sebagai perjuangan. Bagi saya, masuk ke sini bukan tanpa halangan dan rintangan. Setiap perjuangan selalu ada harga yang harus dibayar. Harga itu tidak harus bernilai uang, tapi juga waktu, perhatian, semangat, komitmen, dan pantang menyerah. Tidak ada yang mustahil jika Allah sudah berkehendak. Karena saya yakin, bahwa sebuah hasil sampai kapan pun tak akan pernah mengkhianati sebuah usaha.

Komentar